Saturday, May 26, 2018

'Diplomasi Bambu' Menteri Siti dengan Fiji


Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar melakukan pertemuan bilateral dengan delegasi negara Fiji. Pertemuan berlangsung di sela kegiatan Asia-Pacific Rainforest Summit (APRS) ke-3 di Yogyakarta.

Hubungan diplomatik Indonesia dengan Fiji terjalin sejak tahun 1974. Sedangkan inisiasi kerjasama bidang kehutanan baru dimulai sejak dua tahun lalu, dan terealisasi dengan ditandatanganinya Mutual of Understanding (MoU) bersama dengan Menteri Perikanan dan Kehutanan Republik Fiji, H.E. Osea Naiqamu, Selasa (24/4/2018).

Melalui kerjasama ini, Indonesia akan berbagi pengalaman pengelolaan hutan lestari serta pemanfaatan hasil hutan. Termasuk pemanfaatan teknologi kayu dan non kayu, perdagangan kayu legal, pengembangan energi biomassa serta penelitian dan pengembangan bidang kehutanan lainnya.

Fiji juga tertarik untuk membudidayakan bambu, dan berharap Indonesia dapat memberikan contoh bambu dengan genetik yang baik.

''KLHK telah melakukan penelitian terhadap jenis bambu yang cocok ditanam di kepulauan Fiji, dan jenis tersebut ada di Yogyakarta,'' kata Menteri Siti.

Menindaklanjuti 'diplomasi bambu' ini, Menteri Siti mengatakan pihaknya akan mengundang delegasi Fiji untuk melihat secara langsung jenis bambu yang layak tersebut.

Implementasi lainnya dari MoU tersebut adalah upaya peningkatan kemampuan sumber daya manusia seperti pengembangan ketrampilan mengukir dengan memanfaatkan limbah kayu. Pelatihan mengukir kayu tersebut rencananya akan mengundang ahli ukir yang berasal dari desa Cekik, Bali.

Indonesia juga akan memberi bimbingan teknis mengenai rehabilitasi lahan. Hal ini menindaklanjuti permintaan bantuan dari Kedutaan Fiji tentang teknik rehabilitasi lahan untuk mencegah bencana longsor. Sebagai negara kepulauan layaknya Indonesia, Fiji juga rentan akan bencana.

“Tidak mudah bagi Fiji mengelola sumber daya alam untuk melindungi hutan dan mencegah bencana,'' tutur Menteri Siti.

Atas terealisasinya Mou ini, Menteri Perikanan dan Kehutanan Republik Fiji Osea Naiqamu menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada Menteri LHK Siti Nurbaya.

Ia berharap antara Fiji dan Indonesia dapat mengimplementasikan kerjasama lainnya pada masa mendatang.

Fiji bukan negara pertama yang akan belajar sektor kehutanan pada Indonesia. Dalam waktu dekat dua negara yang memiliki luas gambut terbesar di dunia, yakni Republik Congo dan Republik Demokratik Congo, akan mengutus masing-masing Menteri-nya untuk belajar tata kelola gambut dan sektor kehutanan lainnya ke Indonesia.
 
"Indonesia akan memimpin south-south cooperation (kerjasama selatan-selatan) menangani gambut Congo Basin untuk dunia," kata Menteri Siti.

Hal ini sekaligus menandakan bahwa berbagai langkah koreksi pemerintahan Presiden Joko Widodo, berhasil menjadikan Indonesia kini sebagai negara terdepan dalam implementasi perjanjian Paris, terutama menghadapi isu perubahan iklim.(*)