Saturday, May 26, 2018

Menteri LHK: Perempuan Pendorong Perubahan Prilaku Lingkungan

MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan, kaum perempuan memiliki perasaan memikirkan posisi orang lain (empati) yang tinggi, memiliki ciri 'akunya kamu' lebih besar dan berfikir holistik, sehingga pertimbangannya banyak. Hal ini menjadi keunggulan perempuan dibanding laki-laki dalam mengambil keputusan.

"Sesuai perannya, perempuan menjadi bagian yang mengakomodasi segala kepentingan masyarakat. Perempuan itu hebat," ungkap Menteri Siti saat talkshow Rapat Koordinasi Nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Rakornas KPPPA) di Kota Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (1/3/2018).

Bersama-sama dengan Menteri PPPA, Yohana Susana Yembise, dalam Rakornas yang mengusung tema 'Kerja Bersama untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak Indonesia',  Menteri Siti menyampaikan apresiasinya atas kemajuan yang telah dicapai para perempuan di Indonesia.

Di kesempatan berbeda, salah satu Menteri perempuan Presiden Jokowi ini menguraikan tentang keterkaitan penting antara perempuan dan lingkungan hidup. Kerusakan sumber daya alam akan berdampak besar pada perempuan, yang kemudian berimbas pada anak, keluarga dan kelompok masyarakat lainnya.

"Permasalahan lingkungan senantiasa berhulu di prilaku, dan perempuan adalah media yang dapat mendorong perubahan prilaku yang pertama dan utama. Karenanya KLHK menjadikan perempuan sebagai tujuan dan subyek pembangunan lingkungan hidup," kata Menteri Siti.

Untuk itu KLHK telah melakukan Penandatanganan MoU dengan Kementerian PPPA tentang Percepatan Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak dalam Pembangunan bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Pengendalian Perubahan Iklim.

Dalam hal menjaga lingkungan, KLHK juga memastikan perempuan mampu menyediakan pangan. Contohnya pada tahun 2017, KLHK telah mendorong pemanfaatan tegakan hutan untuk 30 ribu ton padi dan pangan lainnya dalam bentuk agroforestry di HKm, HD, HTR dan Hutan Rakyat dalam kerangka Program Perhutanan Sosial.

Perempuan kata Menteri Siti, juga memiliki peran penting dalam pengendalian sampah. Karena lebih dari 50 persen sampah adalah sampah rumah tangga.

"Peran perempuan dalam mengendalikan sampah, menjadi langkah awal dalam menjaga lingkungan. Karena pengelolaan sampah sebaiknya dari rumah, misalnya dengan pemilahan," kata Menteri Siti.

Para perempuan Indonesia telah banyak menjadi inspirasi lingkungan. Di antara para pejuang lingkungan penerima Kalpataru, terbukti banyak diraih oleh perempuan-perempuan hebat.

Sebagian diantaranya: Kholifah (2010), berhasil mengembangkan pupuk yang membantu petani menurunkan penggunaan pupuk buatan; Nurhidayati (2004), penyuluh lingkungan, hutan rakyat dan rehabilitasi lahan kritis melalui penanaman pohon; Endang Sulistyowati (2010), mengajarkan penduduk menanam 23.000 pohon bakau di pesisir Probolinggo.

Selain itu ada nama Linneke S. Watoelangkow (2004), merehabilitasi lahan, penggalangan dana lingkungan, pemberian beasiswa lingkungan; Sriyatun Djupri (2008), sahabat sampah yang menggerakkan pemilahan sampah di Surabaya; Ully Sigar Rusady (2001), memberdayakan masyarakat, hutan rakyat, diklat dan menggubah lagu-lagu bertema lingkungan hidup.

Juga ada nama Theresia Mia Tobi (2008), menggerakkan warga Nawakote, NTT untuk menanam di pekarangan dan hutan; Robiah (1988), melakukan penghijauan; Wayan Sutiara Mastoer (2006), mengumpulkan sisa tumbuhan dan sampah organik sebagai daur ulang untuk hiasan, dan Zamriyah (1983), melakukan aktivitas teknologi perairan.

"Juga banyak perempuan dari berbagai profesi yang concern lingkungan dan hutan, seperti Nadine Chandrawinata, Tasya Kamila, Oppie Andaresta, Melati, Violetta, Hanna Nining, Sandra Moniaga, Olga Lydia, Penny Susanti, Fikriya, Nuramalia, Dyah, Woro, dan banyak nama perempuan hebat lainnya," ungkap Menteri Siti.

Tidak hanya isu perempuan, KLHK juga sangat memperhatikan isu terkait anak. Karena dua isu penting ini memerlukan kerja bersama dan kolaborasi semua pihak.

Hal inipun dibuktikan dengan keberhasilan KLHK meraih penghargaan Anugrah Parahita Ekapraya (APE) tingkat Pratama pada tahun 2011, tingkat Madya pada tahun 2012, 2013, dan 2014. Serta puncaknya APE tingkat Utama pada tahun 2017.

APE diberikan oleh KPPPA pada Kementerian/lembaga, Pemerintah provinsi dan Pemerintah kabupaten/kota yang memberikan perhatiannya terhadap isu perempuan dan anak.

"Harapan dan Keceriaan anak terpancar ketika mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan aman. Karenanya KLHK menempatkan perempuan dan anak dalam akses utama kesejahteraan rakyat, terutama di sektor lingkungan hidup dan kehutanan,"  tegas Menteri Siti.(*)