Wednesday, December 13, 2017

MENTERI KABINET, Hired dan Fired


Momentum 20 Oktober biasanya dikaitkan dengan reshuffle kabinet. Apakah tahun ini juga issue tersebut akan bergulir ?. Studi kepuasan masyarakat atas kerja menteri, ujung-ujungnya dikaitkan juga dengan tingkat kepercayaan publik dan legitimasi. Begitu juga penilaian UKP4 atas jajaran kabinet. Kalau ada media menyebutkan bahwa Presiden SBY harus lakukan reshuffle untuk meningkatkan kembali kepercayaan publik tahun 2012 atau bahkan nanti di Oktober 2013, maka berarti sejarah seperti akan berulang. Hal serupa juga mendera Presiden Megawati Soekarnoputri di tahun 2003-an, desakan melakukan reshuffle atas minimal dua menteri ketika itu, hanya setahun menjelang Pemilu 2014.

Dua tiga hari lalu, berkembang lagi issue untuk adanya pembenahan kementerian tertentu. Apapun yang akan dibenahi oleh Presiden atas kabinetnya, satu hal yang sangat penting sebagai prinsip dalam kepemimpinan birokrasi Presiden sebagai pemimpin eksekutif, yaitu bahwa tugas pembantu presiden ialah mempermudah kerja presiden. Dan, setiap langkah menteri dalam seremonial kepada publik harus betul-betul ditujukan untuk membangun kepercayan publik kepada pemerintah yang berkuasa dan bahkan kepada partai yang berkuasa.

Kepemimpinan Politik Menteri dalam Birokrasi

Bagi Presiden SBY, persoalan reshuffle tentu bukan lagi terkait dengan proyeksi 2014, akan tetapi lebih kepada perspektif perlunya kemantapan jaminan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah sehingga upaya pembangunan naisonal yang sedang berlangsung akan tetap berjalan dengan baik. Kepercayaan rakyat harus secara terus menerus dibangun dan atau dipertahankan oleh partai politik pemenang Pemilu penyelenggara negara. (Perlu diingat lagi, salah satu fungsi parpol adalah to run to win the election to govern). Tidak ada pilihan kecuali kerja keras membangun kepercayaan rakyat kepada pemerintah dengan cara menjalankan fungsi-fungsi politik eksekutif secara efektif. Maka, dalam hal ini, fungsi kepemimpinan birokrasi para Menteri menjadi penting. Kelemahan dalam kerja birokrasi kementerian akan menggerus kepercayaan rakyat.

Kepemimpinan birokrasi Menteri akan memberi pengaruh akhirnya pada legitimasi negara. Menurut Bruce Gilley (2009), bahwa legitimasi negara bersumber pada :
Pertama, sumber khusus, particularistic seperti ikatan sejarah (historical bound concept) yang dapat berbeda-beda di berbagai negara menurut waktu dan tempat. Di Indonesia, konsep partikularistik seperti ini cukup banyak seperti misalnya ikatan sejarah pembebasan Irian Barat, sejarah kontribusi Seulawah kepada NKRI, juga Kota Bukittinggi sebagai pusat pemerintahan daurrat, Jogjakarta sebagai ibukota RI saat agresi Belanda dan sebagainya.
Kedua sumber sosiologis, rasa positif yang tumbuh di masyarakat terhadap negara (positive feelings about the state). Dalam negara yang sangat besar seperti Indonesia, maka efektifitas penyelenggaraan pemerintahan yang menimbulkan rasa positif, termasuk kebanggaan-kebanggaan menjadi sangat penting.
Ketiga, pengorganisasian pembangunan (developmental concept) yaitu pengorganisasian produksi dan distribusi dalam kaitan akses kesejahteraan masyarakat.
Keempat, aktualisasi demokrasi ( democratic concept), berkaitan dengan hak asasi masyarakat, peran masyarakat sipil, hak-hak politik, sosial dan hak sipil lainnya;
serta kelima, kerja birokratik, kekuatan dan efektifitas lembaga-lembaga negara dan pemerintahan, serta keberlangsungan rejim (bureaucratic concept).

Reshuffle sebagai implikasi hiring-firing ?

Issue reshuffle yang mengemuka saat ini menyangkut beberapa sebab, yang hampir seluruh issuenya dapat dikaitkan dengan kerja jajaran birokrasi kementerian. Menyangkut sebab korupsi misalnya, dalam konsep birokrasi, korupsi adalah kegagalan menjalankan tugas (Heywood, 2002). Oleh karena itu setiap indikasi korupsi berarti menampakkan ketidak-mampuan dalam menjalankan tugas. Menyangkut sebab lemahnya kebijakan seperti moratorium, penyelesaian program dan agenda kerja, dalam konsep birokrasi dengan ciri impersonal, akuntabel, dan hirarkis (chain of command), maka disini ada persoalan kebijakan, agenda atau program, yang seharusnya clear, continues dan consistent diselesaikan. Itu semua untuk menjamin sasaran dalam konsep kerja prinsipal-agen (principals and agents) yang harus diselesaikan tuntas oleh birokrasi kementerian (sebagai agents) untuk memenuhi harapan Presiden sebagai principals (yang mendapat mandat suara langsung dari rakyat).
Format “ Principals-Agents” menurut David de Ferranti, Justin Jacinto, Anthony J. Ody dan Graeme Ramshaw (2009), merupakan pengaturan dimana satu aktor merupakan Agent yang diberi penugasan dan akan berguna bagi aktor lain yang disebut Principals. Model ini mulanya murni merupakan model pengelolaan bisnis, dan berkembang penerapannya dalam hubungan warga negara dengan penyelenggara negara atau pemerintah.

Model asli hubungan Principals-Agents secara teoritik tergambar dimana pemilik usaha menyewa manajer untuk menjalankan usaha. Pemilik usaha tentu saja mempunyai berbagai sasaran dan harapan serta cara untuk perusahaan beroperasi. Pemilik usaha tentu juga lebih menginginkan perolehan profit dalam jangka panjang yang dapat menyelamatkan nilai-nilai ekuitas perusahannya. Begitupun ada harapan dalam cara mengelola resiko usaha sehingga tidak menjadi bangkrut. Masalah sering timbul karena kepentingan Agents secara substansial tidak sejalan dengan kepentingan Principals, dan dimana Principals tidak dapat dengan mudah melakukan obervasi terhadap kinerja Agents. Selain itu, Principals juga kerap tidak dapat menjamin Agents konsisten berada dalam satu kepentingan yang sama dengan Principals, karena dapat terjadi dimana Agents akan mencari yang maksimal menurut pandangan dan untuk dirinya, termasuk (potensi) penyimpangan seperti kolusi kontrak, nepotisme dll. Begitu pula, cukup penting dimana Agenst dalam hal memandang resiko berbeda derajat sensitifitas dengan pandangan Principals atas resiko dimaksud.

Obersvasi kepada perilaku dan pekerjaan Agents, merupakan dasar dalam upaya untuk perbaikan dan peningkatan (corrective actions). Principals membutuhkan informasi yang akurat, relevan dan setiap waktu tentang apa yang dilakukan oleh Agents. Dalam hal ada indikasi kesalahan dari kerja Agents, maka Principals akan sesegera mungkin melakukan koreksi sebelum makin menumbukan kerusakan-kerusakan dan keruntuhan perusahaan (extensive damages).

Format Principals-Agents juga dapat di pakai dalam model Politik dan Pemerintahan seperti diutarakan oleh David de Ferranti dkk. Berposisi sebagai Agents adalah kementerian. Dan berposisi sebagai Principals adalah rakyat yang memiliki suara dan dalam hal ini diartikan Presiden sebagai refleksi perolehan suara rakyat diatas 60 % pada Pilpres 2009. Dalam konsep tersebut , maka Agents di-hire ( dipilih, ditunjuk ) atau di-fire (diberhentikan, dipecat) oleh Principals. Disitulah kemudian muncul issue reshuffle kabinet, karena rasa ketidak puasan rakyat seperti dilansir lembaga survey melalui media dan juga atas evaluasi menyeluruh ”kerja” Agents oleh UKP4. Apakah seorang menteri dipilih atau diberhentikan, sebagaimana Agents di-hire atau di-fire, maka kurang lebih begitulah konsepnya.

Terms of The Day

  • Constitution   Fundamental and entrenched rules governing the conduct of an organization or nation state, and...
  • Government   A group of people that governs a community or unit. It sets and administers public policy and...
  • Security   The prevention of and protection against assault, damage, fire, fraud, invasion of privacy, theft,...
  • Consumer Price Index (CPI)   A measure of changes in the purchasing-power of a currency and the rate of inflation. The consumer...
  • Risk   A probability or threat of damage, injury, liability, loss, or any other negative occurrence that...
  • Quality   In manufacturing, a measure of excellence or a state of being free from defects, deficiencies...
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Kegiatan Siti Nurbaya

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  • 31
  • 32
  • 33
  • 34
  • 35
  • 36
  • 37
  • 38
  • 39
  • 40
  • 41
  • 42
  • 43
  • 44
  • 45
  • 46
  • 47
  • 48
  • 49
  • 50
  • 51
  • 52
  • 53
  • 54
  • 55
  • 56
  • 57
  • 58
  • 59
  • 60
  • 61
  • 62

Gallery Video

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10

Semua Artikelku Untukmu

Wawancara & Kolom

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9